gbr


gbr
gbr
Bupati Langkat
H Ngogesa Sitepu SH
Wakil Bupati Langkat
Drs H Sulistianto Msi

PHOTO MINGGU INI
gbr
PAK TENGKU ERRY-NGOGESA [ PATEN ] : Bupati Langkat Ngogesa Sitepu menegaskan tetap mendukung HT Erry Nuradi (Tengku Erry) menjabat Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) selama kepemimpinannya berpihak kepada rakyat, pembangunan untuk kesejahteraan rakyat Sumatera Utara terus dipacu..................dstnya.........

gbr

DOA YANG DIPERKENANKAN

KISAH TIGA ORANG HAMBA YANG SHALEH

UJIAN HIDUP SELALU ADA

HIKMAH PUASA

PERTOLONGAN ALLAH

SEBUAH KESAKSIAN

gbr
gbr

13/06/2017. 22.15.00 WIB
NGOGESA : HIMBAU APARATNYA AGAR BERSIKAP PROFESIONAL DAN AMANAH

11/06/2017. 21.45.00 WIB
Safari Ramadhan Pemprovsu Kunjungi Besitang Dan Jaring Halus : MASYARAKAT DUKUNG TENGKU ERRY BERSAMA NGOGESA

10/06/2017 17.45.00 WIB
PERINGATAN HARI LAHIR PANCASILA DI LANGKAT

01/06/2017. 17.32.00 WIB
Tim Safari Ramadhan Pemkab Langkat Kunjungi Sejumlah Masjid

22/05/2017. 20.32.00 WIB
Peringatan Harkitnas Di Langkat Berlangsung Khidmat

18/05/2017 16.46.00 WIB
Festival Nasyid Tingkat Kabupaten Langkat Ke-46 Berakhir : Group Batangserangan Raih Juara

17/05/2017. 21.26.00 WIB
NGOGESA CANANGKAN MENJELAJA DESA MENJEMPUT PAJAK DI BATANGSERANGAN

gbr

Anda Pengunjung ke :

143890

gbr



gbr 1 1 1 1 1

KREATIF REMAJA

Pwi Sumut : Ragam Bahasa Jurnalistik Beda Dengan Ragam Bahasa Lain

Medan (PWI) - Ragam bahasa jurnalistik berbeda dengan ragam bahasa lain. Ciri teks ragam jurnalistik, khususnya bahasa surat kabar memiliki ciri dominan, yakni proyeksi, keobjektifan bahasa (khususnya di dalam berita, kecuali di dalam editorial), kontraksi, dan metafora.

Demikian peneliti Balai Bahasa Medan Drs. Amran Purba, M.Hum pada diskusi jurnalistik Membedah Ragam Bahasa Pers Dari Sudut Pandang Kaidah Bahasa Indonesia dan Media diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sumatera Utara (Sumut) bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU) di ruang serbaguna Prof. T. Amin Ridwan FIB USU, Kamis (22/12/2011).

Selain Amran Purba, tampil sebagai narasumber pada diskusi yang dibuka Pembantu Rektor I USU Prof. Ir. Zulkifli Nasution, M.Sc, Ph.D itu, pengajar FIB USU Dr. Dwi Widayati, M.Hum, serta praktisi pers masing-masing H. War Djamil, SH dan H. Sofyan Harahap, S.Sos dengan moderator Drs. Isma Tantawi, MA dan Rizal Rudi Surya, SH. Turut hadir dan memberikan kata sambutan, Ketua PWI Sumut Drs. Muhammad Syahrir dan Dekan FIB USU Dr. Syahron Lubis, MA.

Menurut Amran Purba, proyeksi merupakan representasi pengalaman linguistik ke dalam pengalaman linguistik lain. Dengan merujuk teori linguistik fungsional sistemik (LFS) seperti yang dikembangkan pakar LFS, seperti Halliday (1994), Martin (1992), Ventola (1987, 1988), dan para pengikut mereka, proyeksi didefinisikan sebagai pemaparan kembali pengalaman linguistik ke dalam pengalaman linguistik lain.

Lebih lanjut dikemukakan Amran Purba, bahasa objektif adalah representasi dalam bahasa yang menggambarkan sesuatu pengalaman yang bagi semua khalayak (addressee) representase pengalaman linguistik itu (dipandang) sama seperti yang ditampilkan oleh pemakai bahasa (addresser). Sebaliknya, bahasa yang subjektif menggambarkan sesuatu pengalaman (oleh penulisnya) yang berbeda bagi sebanyak orang atau khalayak dalam memandang atau memahami representasi pengalaman itu. Ini berarti bahasa yang subjektif adalah bahasa yang membawa pertimbangan, sikap, pendapat atau komentar pribadi dari setiap pemakai bahasa.

Sementara kontraksi, kata Amran Purba, kebiasaan menunjukkan penyingkatan penggunaan kata atau kalimat. Penggunaan kata terkontraksi senpi (senjata api), Ponsel, Balon, Jagung, Kemdikbud, dan sejenisnya merupakan ciri ragam bahasa jurnalistik.

Sedangkan metafora, imbuhnya, adalah pembentukan atau penginterpresaian arti dari dua sisi. Bahasa metafora potensial memiliki lebih dari satu arti. Multiarti itu, khususnya dalam bahasa ragam jurnalistik atau politik, membuat interprestasi yang bercorak ragam, bahkan bertentangan, di kalangan pembaca atau politisi dan mempengaruhi konteks sosial.

PENYIMPANGAN

Di lain sisi, Dwi Widayati melihat, terjadi beberapa penyimpangan kaidah bahasa Indonesia dalam ragam bahasa jurnalistik. Penyimpangan yang umum terjadi antara lain kesalahan ejaan dan penulisan kata, kesalahan pemenggalan kata, penyimpangan morfologis, penyimpangan pemakaian kosa kata, dan penyimpangan sintaksis.

Konsistensi penulis terhadap pemakaian kaidah bahasa Indonesia dengan benar, kata Widayati, dapat mengurangi kesalahan yang kemungkinan akan muncul. "Seorang penulis haruslah menyadari bahwa dia berhadapan dengan pembaca bukan mitra wicara. Karena itu, kalimatnya harus cermat, jelas polanya dan jelas fungsi gramatikalnya agar tidak timbul salah pengertian," terangnya.

Dia berharap, kecintaan pada bahasa Indonesia harus dapat diwujudkan, baik secara lisan maupun tulisan. Berbahasa Indonesia tidak hanya semata-mata untuk dapat saling mengerti. Menulis atau berbicara memerlukan keterampilan yang berbeda-beda. Diperlukan keaktifan secara terus menerus untuk melatihnya. Kemahiran berbicara dan menulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar bukan warisan dari orangtua. Juga bukan karena kita sudah bisa berbahasa Indonesia,ujarnya.

TETAP BERINDUK

Sofyan Harahap, Wakil Pemimpin Redaksi/Wakil Penanggungjawab Harian Waspada mengatakan, ragam bahasa jurnalistik adalah salah satu dari variasi (ragam) bahasa yang tetap berinduk pada bahasa Indonesia. Keberadaannya pasti dan positif bagi seluruh elemen masyarakat.

Sejalan dengan fungsi dan karakteristik media massa yang diembannya, kata Sofyan, ragam bahasa jurnalistik mempunyai ciri khas: singkat, padat, akurat, logis, menarik, di samping harus baik dan benar, serta mudah dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat. Pemakaian ragam bahasa jurnalistik sebaiknya disesuaikan dengan jenis berita, media, dan segmennya.

Meskipun banyak pihak, terutama guru, dosen, dan pakar bahasa acapkali mengkritisi kesalahan-kesalahan dalam penggunaan kata, penulisan kalimat, alinea atau paragraf dan lain-lain, namun pemakaian ragam bahasa jurnalistik diyakini terus berkembang dengan segala kelebihan dan tentu saja memiliki sisi kekurangan.

Mudah-mudahan eksistensi ragam bahasa jurnalistik semakin memberi kontribusi bagi pengayaan kosa kata bahasa Indonesia dan memperkuat kesatuan bangsa, harapnya.

IKUT MENDUKUNG

Sementara War Djamil menggarisbawahi tentang peran pers yang cukup peduli terhadap perkembangan bahasa Indonesia, bahkan ikut memperkaya. Ini bermakna, tidak ada niat pers dengan sengaja melakukan penyimpangan dari kaidah bahasa Indonesia. Pers dalam penyajiannya tetap berupaya secara optimal berada dalam koridor kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jika terjadi kekeliruan, itu bukan disengaja dan masih dalam batas-batas toleransi.

Yang lebih penting, kata War Djamil, insan pers perlu secara terus menerus menggerakkan upaya penjabaran etika profesi, termasuk dalam ragam bahasa pers atau jurnalistik. "Dalam pengembangan profesionalisme pers, konsistensi harus dapat diukur dengan tepat. Tidak terkecuali konsisten pada bahasa Indonesia yang baku," pungkas War Djamil. (rel-fb pwisumut)***

DIABADIKAN: Ketua PWI Cabang Sumatera Utara Drs. Muhammad Syahrir bersama narasumber dan civitas akademika Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU) diabadikan usai kegiatan diskusi jurnalistik Membedah Ragam Bahasa Pers Dari Sudut Pandang Kaidah Bahasa Indonesia dan Media diselenggarakan PWI Sumut dan FIB USU di ruang serbaguna Prof. T. Amin Ridwan FIB USU, Kamis (22/12/2011).

 

Share |

 

 
gbr


gbr
gbr
www.LANGKATonline.com
PWI Perwakilan Kabupaten Langkat
Email: pwilangkat@gmail.com
gbr
gbr

Kiat Menulis yang baik dan benar untuk remaja pelajar. Kirimkan tulisan dan photo anda untuk dimuat di kolom ini

[cek disini]

gbr

gbr

gbr

gbr

gbr

gbrgbrgbrgbrgbr

a a a a
Hak cipta dilindungi undang-undang 2010 - 2017
www.LANGKATonline.com