gbr


gbr
gbr
Bupati Langkat
H Ngogesa Sitepu SH
Wakil Bupati Langkat
Drs H Sulistianto Msi

PHOTO MINGGU INI
gbr
PAK TENGKU ERRY-NGOGESA [ PATEN ] : Bupati Langkat Ngogesa Sitepu menegaskan tetap mendukung HT Erry Nuradi (Tengku Erry) menjabat Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) selama kepemimpinannya berpihak kepada rakyat, pembangunan untuk kesejahteraan rakyat Sumatera Utara terus dipacu..................dstnya.........

gbr

DOA YANG DIPERKENANKAN

KISAH TIGA ORANG HAMBA YANG SHALEH

UJIAN HIDUP SELALU ADA

HIKMAH PUASA

PERTOLONGAN ALLAH

SEBUAH KESAKSIAN

gbr
gbr

16/10/2017. 21./06.00 WIB
SECANGGANG KECAMATAN TERBAIK DI LANGKAT

03/10/2017. 21.44.00 WIB
DANDIM 0203/LKT YANG BARU LETKOL (INF) DENI EKA GUSTIANA

25/09/2017. 21.44.00 WIB
Bupati Langkat H Ngogesa Sitepu SH : KOMITMEN ANTI GRATIFIKASI

22/09/2017 16.45.00 WIB
Semarak Tahun Baru Islam 1 Muharram 1439 H ; KETUA CANA BAGI-BAGIKAN JATAH UMRAH

10/09/2017. 20.45.00 WIB
Semarak Haornas 2017 Di Langkat 3 Peserta Gerak Jalan Raih Hadiah Umroh

17/08/2017. 16.47.00 WIB
Antusias Masyarakat Langkat Saksikan Ragam Kegiatan HUT RI ke-72

13/08/2017. 21.33.00 WIB
PERISITIWA BERSEJARAH BRANDAN BUMI HANGUS MEMBEKAS BAGI MASYARAKAT LANGKAT

gbr

Anda Pengunjung ke :

188827

gbr



gbr 1 1 1 1 1

DAKWAH

gbrM. Fachri

 

 

 

SEBUAH KESAKSIAN

"Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru kepada Rabb nya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melampaui batas." (QS Al Kahfi [18]:28)

Di suatu sore, seorang Ibu yang telah beranjak tua menyapa beberapa anak yang ada disekelilingnya. Anak-anak yang dalam beberapa hari terakhir ini terlibat dalam pagelaran akbar yang sedang dipertontonkan di Jakarta, Musikal Laskar Pelangi. Sang Ibu melayani mereka dengan sangat ramah. Beberapa dari mereka ingin sekedar berfoto dan yang lainnya meminta tanda tangan.

Seorang anak perempuan mendekatinya dan mengajaknya berbicara. Anak itu mengulurkan tangannya untuk berjabatan dan ia meletakkan punggung tangan sang Ibu di dahinya. Tanda sebuah penghormatan. Sang Ibu tersenyum. Ketika itu juga sang Ibu melihat ada sebuah kancing baju sang anak tidak terpasang dengan baik. Sang Ibu membetulkannya. Penuh kelembutan. Penuh kasih sayang. Sang anak spontan memeluk sang Ibu mengucapkan terima kasih...sang Ibu membalasnya dengan pelukan pula sembari membelai rambut sang anak yang telah terpasang pita pada kucirannya. Ia memerankan seorang tokoh penting dalam pagelaran sore itu.

Hamba itu memperhatikan adegan tersebut dari kejauhan. Seorang Ibu yang dengan takdir Allah Azza wa Jalla telah menjadi seorang guru di sebuah pelosok kampung Gantong nan sepi di Belitong. Terpencil dari peradaban dan jauh dari kemapanan. Guratan-guratan pada wajahnya menjadi bukti betapa ia telah melewati kehidupan ini dengan tidak nyaman. Ia selalu berjuang dalam pasang surut ujian seorang hamba Allah yang selalu teguh memegang prinsip.

Namanya menjadi amat dikenal oleh siapapun di negeri ini. Sosok yang identik dengan ketegaran dan sikap pantang menyerah telah ia tunjukkan dalam mendidik murid-muridnya. Ia menjadi sosok pendidik yang sejati dan memperoleh apriesiasi dari siapapun yang membaca kisah dirinya pada sebuah novel yang ditulis oleh salah seorang muridnya.

Hamba itu masih terus memperhatikannya. Tahu dirinya menjadi pusat mata tertuju, ia menganggukkan kepalanya kepada hamba itu sembari tersenyum...Hamba itu mendekatinya dan memperkenalkan dirinya...Ia membalas dengan mengatakan, Saya Muslimah... Jawabnya. Ia menyebut namanya dengan amat singkat.

Hamba itu mengajaknya berdialog. Bu Muslimah menyambutnya dengan senang hati. Bahasanya mengalir pelan tapi tegas. Citra seorang pendidik yang tidak pernah lekang oleh zaman. Satu pelajaran penting didapat oleh hamba itu dalam dialog yang mereka lakukan di sore itu. Ia berkata, Apapun yang kita lakukan...balasannya belum tentu kita dapatkan di dunia ini...Selalulah bersabar untuk mendapatkan balasan yang sempurna kelak di akhirat." Begitu Bu Muslimah berpesan.

Hamba itu tersenyum..merasakan begitu teduh kata-kata yang mengalir dari lisannya...Wajah yang tidak lagi muda mengesankan sebuah kesejukan dalam oase kehidupan yang kadang amat meletihkan. Hamba itu bertanya pada dirinya sendiri, Berapa banyakkah lagi di dunia ini orang-orang yang seperti Bu Muslimah? Orang-orang yang selalu menyebarkan kedamaian dengan kata-katanya yang bijak...orang-orang yang selalu memikat hati orang-orang yang berbicara dengannya?

Jawabannya: Mungkin tak banyak...

Lihatlah diri kita sendiri...Walaupun memiliki wajah yang indah dipandang dan lekuk tubuh nan menawan, di setiap kehadiran diri kita diantara orang-orang yang kita kenal, mereka merasakan ketidaknyamanan dan cenderung untuk menghindar. Kata-kata yang keluar dari lisan kita ibarat sampah yang berbau busuk yang tak sudi seorangpun mengingatnya...Pendapat-pendapat yang kita sampaikan bagaikan racun yang tak sudi seorangpun menjamahnya...

Bu Muslimah jauh dari itu semua. Ia bagai aliran air yang mengalir jernih. Anak-anak menantikan belaian tangannya pada ujung-ujung dahi mereka. Orang dewasa menantikan petuah-petuahnya yang penuh makna. Untaian kata-katanya bagai sebuah untaian puisi Nyanyi Sunyi Amir Hamzah yang berarak menawan meneduhkan separuh jiwa yang penat dengan kehidupan.

Ia punya apa yang mungkin tidak kita punya...Keberkahan Hidup yang terpancar jelas...

Hamba itu ingat akan sebuah riwayat. Seorang sahabat Rasulullah yang bernama Bilal bin Rabah ra. Seorang bekas budak yang memiliki kulit hitam legam tanpa keistimewaan selain tenaganya yang sangat kuat tapi Nabi Saw memberi gelar kepadanya dengan sebutan Bastul Wajhi (Wajah yang penuh keberkahan). Kehadirannya selalu dinantikan oleh Nabi...Pendapatnya selalu menjadi pertimbangan Nabi... Setiap Rasulullah berkumpul dengan para sahabatnya dalam sebuah majelis, jika Bilal tidak kelihatan, Rasulullah selalu mencarinya dengan mengatakan, Dimana Bilal? Sahabat-sahabat Nabi yang lain pun merasakannya. Suaranya dalam melantunkan Adzan menjadi nyanyian kerinduan kepada Rabb Yang Maha Agung.

Kita mungkin bertanya dalam diri kita kembali. Sejauh mana kita mengerti akan orientasi hidup yang kita jalani? Apakah kita hanya disibukkan dengan pencarian tumpukan harta dan hanya menjadi sampah-sampah yang berbau busuk dan dijauhi oleh semua orang? Orang lain tidak pernah merasakan kenyamanan sedikitpun di dekat kita. Atau....

Kita berusaha menjadi bunga semerbak nan harum yang selalu membawa wewangian yang senantiasa menjadi dambaan setiap orang untuk memandangnya dan merasakan kehadirannya?

Bu Muslimah telah membuktikannya...Ia menjadi bunga semerbak nan harum...Sedangkan kita?

Kita sendiri yang dapat menjawabnya...


Rasulullah bersabda, Wahai sahabat-sahabat ku tidaklah disebut kaya seseorang itu karena banyak hartanya, tapi yang disebut kaya (yang sebenarnya) adalah kekayaan jiwa. (HR Bukhari & Muslim)


Yang fakir kepada ampunan
Rabb-nya Yang Maha Berkuasa


Share |
 

 

 
gbr


gbr
gbr
www.LANGKATonline.com
PWI Perwakilan Kabupaten Langkat
Email: pwilangkat@gmail.com
gbr
gbr

Kiat Menulis yang baik dan benar untuk remaja pelajar. Kirimkan tulisan dan photo anda untuk dimuat di kolom ini

[cek disini]

gbr

gbr

gbr

gbr

gbr

gbrgbrgbrgbrgbr

a a a a
Hak cipta dilindungi undang-undang 2010 - 2017
www.LANGKATonline.com