gbr


gbr
gbr
Bupati Langkat
H Ngogesa Sitepu SH
Wakil Bupati Langkat
Drs H Sulistianto Msi

PHOTO MINGGU INI
gbr
Bupati Langkat H Ngogesa Sitepu SH ketika menyambut kedatangan Presiden RI Joko Widodo di Langkat, Jumat (24/11)
Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo (Jokowi) dalam kunjungan kerjanya ke Stabat, Kabupaten Langkat menyerahkan 8.920 sertifikat tanah kepada masyarakat Sumatera Utara dalam acara meriah yang berlangsung di Alun-alun Tengku Amir Hamzah, Stabat.

gbr

DOA YANG DIPERKENANKAN

KISAH TIGA ORANG HAMBA YANG SHALEH

UJIAN HIDUP SELALU ADA

HIKMAH PUASA

PERTOLONGAN ALLAH

SEBUAH KESAKSIAN

gbr
gbr

11/12/2017. 20.43.00 WIB
NGOGESA : Bisnis Syariah Bermanfaat Untuk Masyarakat Ekonomi Lemah

05/12/2017. 21.00.32 WIB
KAFILAH LANGKAT DI ARENA MTQ PROVINSI , RAIH 17 MEDALI

04/12/2017.20.32.00 WIB
APBD LANGKAT 2018 DISAHKAN RP 1,8 T

04/12/2017. 16.45.00 WIB
Ngogesa Serahkan Piagam Pelayanan Publik Terbaik 2017

29/11/2017. 21.05.00 WIB
ALIANDI PEROLEH JATAH NAIK HAJI DARI NGOGESA

27/11/2017. 20.15.00 WIB
Lima Pasangan Balon Bupati Langkat Jalur Independen Serahkan Berkas Ke KPU

26/11/201720.07.00 WIB
MULAI DIKERJAKAN , REHABILITASI PROYEK PENGOLAHAN SUMUR ZAMZAM.

gbr

Anda Pengunjung ke :

221910

gbr



gbr 1 1 1 1 1

DAKWAH

gbrM. Fachri

 

 

 

TEMPAT YANG BERCAHAYA

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS An Nahl [16]:90)

Pada tahun ke-15 H, pasukan Islam dibawah panglimanya, Abu Ubaidah bin Jarrah ra telah menguasai Yerusalem. Khalifah Umar memutuskan untuk datang ke Yerusalem untuk menandatangani perjanjian dengan penguasa Yerusalem yang kala itu dipimpin oleh Uskup Severinus. Khalifah Umar hanya datang berdua dengan pembantunya, sementara Abu Ubaidah, yang dibantu oleh Khalid bin Walid serta Uskup Severinus sendiri menunggunya di pintu gerbang Yerusalem dengan pasukan lengkap. Uskup Severinus hampir-hampir tidak dapat membedakan antara Khalifah Umar dengan pembantunya disebabkan kesederhanaan pakaian yang dikenakannya.

Khalifah Umar disambut dengan ramah oleh Uskup Agung Severinus dan pembesar-pembesar Yerusalem. Khalifah Umar telah menjamin keamanan bagi pemeluk agama Nasrani dan Yahudi di Yerusalem ketika itu. Hal ini menyebabkan ia diterima tidak hanya oleh pembesar-pembesar kota tapi juga oleh seluruh penduduknya. Komitmennya terhadap keadilan dan kebenaran telah begitu memukau mereka.

Setelah cukup beristirahat, Uskup Agung Severinus mengantar Khalifah Umar untuk memperlihatkan kepadanya peninggalan kuno di kota itu. Salah satunya yang terpenting adalah gereja Anastasis (Kanisat al Qiyamah) tempat dimana menurut kepercayaan mereka jasad Al Masih dimakamkan, dan dari sini Al Masih naik ke langit. Ketika melihat-lihat keadaan gereja tersebut, waktu sholat tiba. Uskup Agung Severinus meminta Khalifah Umar untuk sholat dalam gereja tersebut karena itu juga rumah Tuhan. Dengan bijak khalifah Umar menolaknya dan berkata, “Biarlah aku sholat di depan pintunya saja.” Ketika ditanya alasannya oleh sang Uskup, Khalifah Umar berkata, “Aku khawatir jika aku sholat didalamnya, jejakku ini akan diikuti oleh kaum muslimin. Hal ini akan dijadikan alasan bagi mereka untuk merubah gereja ini menjadi sebuah masjid kelak.”

Sungguh sebuah sikap toleransi yang luar biasa dari seorang pemimpin dengan kekuasaan 2/3 dunia dalam genggamannya ketika itu. Sebuah sikap toleransi yang mencerminkan kesederhanaan tapi penuh kesejukan dan kewibawaan yang amat sangat.

Terkadang kita merenung. Sikap apakah yang seharusnya mendominasi seorang pemimpin? Apakah kewibawaannya? Tebar pesona kesana dan kemari agar terlihat berwibawa dimata rakyatnya? Atau menghimbau dengan corong kekuasaan untuk bersikap adil dan benar demi mendongkrak pencitraan dirinya sembari merasa dicintai oleh rakyatnya?

Begitu jauhnya kita dengan masa Rasulullah Saw yang selalu mengajarkan kesederhanaan (baca: zuhud) kepada para sahabat-sahabatnya. Dan hal inilah yang diikuti oleh khalifah Abu Bakr ra dan Khalifah Umar ra sebagai penerus kepemimpinan Rasulullah Saw. Sebuah sikap yang mumpuni dan tercermin dalam setiap langkah dan gerak kehidupan yang mengikutinya.

Kesederhanaan itu justru adalah sebuah benteng diri dari bergantung pada dunia dan mengejar kekuasaan serta harta demi memuaskan nafsunya. Bukankah kesederhanaan amat dekat dengan sifat adil? Keadilan hanya dapat dilihat dengan hati dan pikiran yang jernih. Keadilan bukanlah sebuah sikap sama rata dan sama rasa, tapi lebih kepada sikap “Meletakkan sesuatu pada tempatnya”. Jauh dari kepentingan diri sendiri dan pemuasaan hawa nafsu. Sebuah sikap yang mencerminkan “Mencari ridha Allah Semata”.

Tolak ukur sebuah masyarakat sejahtera adalah keadilan pemimpinnya dalam menjalankan amanah pemerintahan. Hal ini yang selalu kita rindukan dan kerinduan itu dari generasi ke generasi terlewat begitu saja bagai sebuah mimpi yang sangat indah hanya dikala kita tidur….Kita hanya dapat menghela nafas dan bertanya, kapankah itu semua menjadi kenyataan?

Rasulullah Saw menyampaikan, “Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil di sisi Allah seperti berada di atas tempat yang bercahaya. Mereka itu adalah orang-orang yang selalu berlaku adil kepada keluarga dan rakyat yang dipimpinnya.” (HR Muslim)

Wallahu a'lam Bissawab

M. Fachri

Share |
 

 

 
gbr


gbr
gbr
www.LANGKATonline.com
PWI Perwakilan Kabupaten Langkat
Email: pwilangkat@gmail.com
gbr
gbr

Kiat Menulis yang baik dan benar untuk remaja pelajar. Kirimkan tulisan dan photo anda untuk dimuat di kolom ini

[cek disini]

gbr

gbr

gbr

gbr

gbr

gbrgbrgbrgbrgbr

a a a a
Hak cipta dilindungi undang-undang 2010 - 2017
www.LANGKATonline.com