gbr


gbr
gbr
Bupati Langkat
H Ngogesa Sitepu SH
Wakil Bupati Langkat
Drs H Sulistianto Msi

PHOTO MINGGU INI
gbr
Bupati Langkat H Ngogesa Sitepu SH ketika menyambut kedatangan Presiden RI Joko Widodo di Langkat, Jumat (24/11)
Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo (Jokowi) dalam kunjungan kerjanya ke Stabat, Kabupaten Langkat menyerahkan 8.920 sertifikat tanah kepada masyarakat Sumatera Utara dalam acara meriah yang berlangsung di Alun-alun Tengku Amir Hamzah, Stabat.

gbr

DOA YANG DIPERKENANKAN

KISAH TIGA ORANG HAMBA YANG SHALEH

UJIAN HIDUP SELALU ADA

HIKMAH PUASA

PERTOLONGAN ALLAH

SEBUAH KESAKSIAN

gbr
gbr

11/12/2017. 20.43.00 WIB
NGOGESA : Bisnis Syariah Bermanfaat Untuk Masyarakat Ekonomi Lemah

05/12/2017. 21.00.32 WIB
KAFILAH LANGKAT DI ARENA MTQ PROVINSI , RAIH 17 MEDALI

04/12/2017.20.32.00 WIB
APBD LANGKAT 2018 DISAHKAN RP 1,8 T

04/12/2017. 16.45.00 WIB
Ngogesa Serahkan Piagam Pelayanan Publik Terbaik 2017

29/11/2017. 21.05.00 WIB
ALIANDI PEROLEH JATAH NAIK HAJI DARI NGOGESA

27/11/2017. 20.15.00 WIB
Lima Pasangan Balon Bupati Langkat Jalur Independen Serahkan Berkas Ke KPU

26/11/201720.07.00 WIB
MULAI DIKERJAKAN , REHABILITASI PROYEK PENGOLAHAN SUMUR ZAMZAM.

gbr

Anda Pengunjung ke :

221909

gbr



gbr 1 1 1 1 1

DAKWAH

gbrM. Fachri

 

 

 

Robohnya Surau Kami


Suatu kali seseorang pernah bertanya kepada hamba itu, “Apa sebenarnya tafsir dari ayat yang Allah Azza wa Jalla turunkan diatas?”

Hamba itu bertanya kepadanya, “Pernahkah anda membaca buku kumpulan cerpen yang berjudul “Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis?”

Ia menggelengkan kepalanya, walaupun si penanya dan yang ditanya sama-sama berasal dari satu generasi dimana di masa mereka menempuh pendidikan SMP, karya-karya sastra dari pujangga terkenal Indonesia banyak menjadi rujukan dalam memperlajari mata pelajaran bahasa.

Hamba itu bercerita tentang isi buku yang dahulu pernah menjadi salah satu koleksi favoritnya itu. Sebuah buku sastra yang menjadi hadiah ulang tahun ke-13 dari sang Ibu kepadanya dengan sebuah catatan di halaman pertamanya,

“Sebuah tulisan yang akan selalu mengingatkanmu bahwa banyak jalan untuk beribadah kepada Allah SWT….”

Begitu pesan sang Ibu kepadanya…Sang Ibu yang selalu peduli akan rasa keimanan putera semata wayangnya.

Cerpen "Robohnya Surau Kami" bercerita tentang kisah seorang kakek yang marbot (penjaga) surau (masjid kecil) yang resah dan marah setelah mendengar cerita Ajo Sidi, tokoh antagonis di buku kumpulan cerpen ini. Sang kakek hidup dari hasil sedeqah yang ditebar tiap khutbah Jumat dan sebahagian kecil zakat fitrah yang dipungut setiap tahun pada saat Idul Fitri selain daripada bagi hasil dari empang ikan di depan surau yang dikelola oleh orang lain. Sang Kakek membiarkan dirinya dan keluarganya hidup melarat dan walaupun disisi lain ia sangat tekun dalam beribadah kepada Allah SWT.

Ajo Sidi, sang pembual, bercerita tentang Haji Soleh yang masuk neraka walaupun pekerjaan sehari-harinya beribadah di Masjid persis yang dilakukan oleh si Kakek. Haji Soleh dalam cerita Ajo Sidi adalah orang yang rajin beribadah. Semua ibadah dari A sampai Z ia laksanakan semuanya dengan tekun. Tapi ketika hari berhisab, hari dimana ditentukan manusia masuk surga atau neraka, Haji Soleh malah dimasukkan ke neraka. Ia protes kepada Tuhan….Mungkin Tuhan lupa pikirnya. Tapi mana mungkin Tuhan alpa. Tuhan menjelaskan kepadanya alasan dia masuk neraka,

"Kamu tinggal di tanah Indonesia yang kaya raya, tetapi engkau biarkan dirimu melarat, hingga istri dan anak cucumu hidup dalam keadaan teraniaya semua. Aku ciptakan negeri tempat tinggalmu kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadah saja, karena beribadah tidak mengeluarkan peluh. Tidak seperti membanting tulang." Merasa tersindir dan tertekan oleh cerita Ajo Sidi, Kakek memutuskan bunuh diri dengan pisau yang diasahnya sendiri.

Tragis memang….Tapi begitulah kenyataannya. Walaupun karya sastra ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1956, tapi isinya masih sangat relevan dengan keadaan kita saat ini. Sebahagian dari kita masih banyak yang berkeyakinan bahwa dunia ini ibarat 'racun' yang selalu membawa manusia pada keburukan tanpa kita dapat mengambil sedikitpun kebaikan darinya. Hidup kita hanya diisi oleh ibadah-ibadah seperti sholat, puasa, dan menghadiri taklim kesana-kemari serta ibadah-ibadah maghdah lainnya. Kita selalu mengejar pahala sebanyak-banyaknya agar dapat memperoleh tiket ke surga. Kita seakan tidak pernah peduli nasib orang-orang yang hidup bersinggungan dengan kita baik itu pasangan hidup kita, anak-anak, kerabat dan fakir miskin di lingkungan kita ataupun saudara-saudara kita yang terkena bencana.

Kita selalu berpikir bahwa persoalan kesulitan atau bencana yang menerpa kita cukup dihadapi dengan doa Istigotsah dan doa tolak bala lainnya yang pasti akan dikabulkan oleh Allah Azza wa Jalla. Penyakit akan disembuhkan dengan dzikir. Dan kesempitan rezeki akan diselesaikan dengan bersedeqah satu yang akan dibalas paling sedikit sepuluh. Kita hidup dalam ke-naif-an dan akan memberi tongkat estafet ke-naif-an itu kepada anak-anak kita kelak dimasa datang.

Kita terkadang lupa, bahwa hidup kita di dunia ini akan menentukan hidup kita di akhirat mendatang. Seberapa banyak kebaikan yang telah kita tebar dimuka bumi ini dan seberapa banyak manfaat yang ada di diri kita yang dapat diambil atau dinikmati oleh orang lain yang hidup dan mengenal kita.

Hidup bukanlah tentang kesuksesan ataupun keterpurukan, bukan tentang kalah atau menang. Hidup bukanlah harus dilalui dengan penderitaan untuk mendapatkan kebahagiaan pada akhirnya. Tapi hidup adalah sebuah ujian yang dengan ujian yang Allah berikan itu, akan selalu membuahkan kekuatan jiwa untuk ujian berikutnya. Bagai menapak anak tangga menuju kemuliaan diri.

Hidup bagi seorang hamba Allah adalah tentang ‘Apa yang telah ia lalui’ dan bukan tentang ‘Apa yang telah ia peroleh’ yang memiliki makna: Bagaimana kita telah melaluinya? Adakah kita melaluinya dengan bersyukur dan bersabar? Atau kita berkeluh kesah dan menyalahkan Allah? Atau melupakan nikmat yang Allah berikan kepada kita? Hanya diri kita yang dapat menjawabnya.

Diri yang egois dalam beribadah akan menafikan hak pasangan hidup dan anak-anak kita untuk memperoleh kebahagiaan. Menyebabkan mereka menjadi lemah dan terlantar. Menyebabkan mereka terpinggirkan dalam pergaulan dan menjadikan mereka menganggap bahwa agama Islam ini hanya sebuah ritual yang tidak menghasilkan apapun selain kemiskinan, kelemahan dan keterbelakangan.

“Dan mereka yang berkata, ‘Ya Rabb kami, anugerhakanlah kepada kami pasangan hidup dan anak-anak yang menjadi penyejuk hati bagi kami dan jadikanlah kami contoh teladan bagi hamba-hambamu yang bertaqwa.’” (QS Al Furqan [25]:74)



Yang fakir kepada ampunan
Rabb-nya Yang Maha Berkuasa

Share |
 

 

 
gbr


gbr
gbr
www.LANGKATonline.com
PWI Perwakilan Kabupaten Langkat
Email: pwilangkat@gmail.com
gbr
gbr

Kiat Menulis yang baik dan benar untuk remaja pelajar. Kirimkan tulisan dan photo anda untuk dimuat di kolom ini

[cek disini]

gbr

gbr

gbr

gbr

gbr

gbrgbrgbrgbrgbr

a a a a
Hak cipta dilindungi undang-undang 2010 - 2017
www.LANGKATonline.com